Get Adobe Flash player

Metode Pembelajaran

Kajian Tafsir Al-Quran

SURAT AL-BAQARAH  Ayat 27

الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah berikrar (untuk melaksanakan perjanjian itu), dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan (yaitu tali silaturrahim) dan membuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.] [Who break the covenant of Allah after its confirmation and cut asunder what Allah has ordered to be joined, and make mischief in the land; these it is that are the losers.]

1). Penggunaan kata الَّذِينَ (alladziyna, orang-orang yang) di awal ayat ini menunjukkan bahwa ayat ini merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya, yaitu orang fasik—orang yang tidak bisa melihat kebenaran dari fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya. Kandungan ayat ini memperlihatkan bahwa perumpamaan nyamuk di ayat sebelumnya hanyalah caranya Allah mengesankan bahwa diantara tanda orang beriman ialah mampu menemukan kebenaran pada hal-hal ‘kecil’ seperti nyamuk, apalagi pada hal-hal besar yang terjadi di sepanjang sejarah seperti pengusiran dan pembunuhan para nabi, orang-orang saleh, dan orang-orang tidak berdosa. Sehingga, dengan begitu, bagi orang beriman, al-Qur’an benar-benar menjadi ‘kacamata’ furqān (pembeda) dalam melihat realitas-realitas (sosiologis, politis, dan historis). “Sungguh, Al Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan (antara kebenaran dan kebatilan). Dan benar-benar dia (al-Qur’an) itu bukanlah senda gurau. (Tetapi) sungguh orang kafir itu merencanakan tipu daya yang sejahat-jahatnya (dengan menyumbat fungsi al-Quran sebagai furqān).” (86:13-15)

2). Ada 3 (tiga) tanda orang fasik yang disebutkan di ayat ini. Pertama, melanggar perjanjiannya dengan Allah, setelah mempersaksikan (syahadah) dan meneguhkan hati (miytsāk) untuk melaksanakan perjanjian tersebut. Yang menarik, kata “perjanjian” di ayat ini—dalam bahasa aslinya—menggunakan kata عَهْد (‘ahd), yang kalau kita telusuri penggunaannya dalam al-Qur’an pada umumnya terkait dengan tugas ketuhanan (amanah), kenabian (nubuwah) dan kepemimpinan (imamah). Tugas ketuhanan (amanah): “Dan orang-orang yang memelihara amanah dan عَهْد (‘ahd, janji)—yang diembannya.” (23:8 dan 70:32). Kenabian (nubuwah): “Bagaimana bisa ada عَهْد (‘ahd, perjanjian) di sisi Allah dan di sisi Rasul-Nya dengan orang-orang musyrik, kecuali dengan orang-orang yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharam? Maka selama mereka berlaku jujur terhadapmu, hendaklah kamu berlaku jujur (pula) terhadapnya. Sungguh Allah mencintai orang yang bertakwa.” (9:7) Kepepmipinan (imamah): “Dan (ingatlah), tatkala Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. (Kemudian) Allah berfirman: ‘Sungguh Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga agar para imam setelahku adalah) dari keturunanku’. Allah berfirman: (Permohonanmu Kupenuhi, tapi) عَهْدِي (‘ahdiy, janji-Ku ini) tidak berlaku kepada (keturunanmu) yang zalim”.” (2:124).

3). Kedua, memutus apa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, yaitu tali silaturrahim atau hubungan persaudaraan antara sesama. Karena memutus hubungan dengan sesama pada dasarnya melanggar ketetapan-Nya berkenaan dengan tujuan penciptaan dan pengutusan Nabi dan Rasul. Tentang persaudaraan diantara umat manusia: “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan; dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab Suci yang berisi kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…” (2:213) Tentang persaudaraan diantara sesama orang beriman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat.” (49:10). Begitu pentingnya persatuan dan persaudaraan ini sehingga setiap perbuatan, sekecil apapun, yang bisa merusak hati dan pikiran, Allah melarangnya. “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kalian mencela dirimu sendiri dan jangan (pula) kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kalian menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? Maka tentulah kalian merasa jijik (melakukan itu) kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (49:11-12)

4). Ketiga, melakukan kerusakan di bumi. Seorang yang beriman tidak mungkin bersua dalam amal salehnya dengan perbuatan merusak. Karena perbuatan merusak adalah perbuatan orang kafir dan munafiq (lihat kembali pembahasan ayat 11 dan 12). Baginya, nyamuk bukanlah obyek kemarahan, tapi mitra mencari kebenaran. Seperti Nabi Sulaiman dengan semut. Bagi kebanyakan orang, semut adalah ancaman dan gangguan, tapi bagi anak Nabi Daud ini, semut adalah gapura (madkhal) untuk menyampaikan pernyataan syukur yang luar biasa kepada Rab-nya. “Maka dia (Nabi Sulaiman) tersenyum dan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Kemudian dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu dan ayahku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridlai; serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh’.” (27:19) Kalau semut dan nyamuk saja mereka perlakukan secara elegan, maka bagaimana mungkin seseorang disebut beriman apabila mengusir dan membunuh orang-orang saleh dan orang-orang tidak berdosa?

5). Ayat ini berakhir dengan penggalan: أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (uwlāika humul khāsiruwn, Mereka itulah orang-orang yang merugi). Bagi kita, kata “merugi” sepertinya tidak terlalu besar tendangannya. Mungkin karena seringnya kita mengalami kejadian itu dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, di sisi Allah “merugi” adalah perkara yang sangat serius. Bandingkanlah ayat 27 ini dengan ayat berikut ini: “(Adapun) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah berikrar (untuk melaksanakan perjanjian itu), dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan (yaitu tali silaturrahim) dan membuat kerusakan di bumi, (maka) orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (13:25) Kalimat “orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam)” di 13:25 tersebut setara dengan kalimat “Mereka itulah orang-orang yang merugi” di Surat al-Baqarah ayat 27 ini. Artinya, di sisi Allah, “merugi” sama dengan “kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Neraka Nahanam)”. Na’udzu billah min dzālik!!!

AMALAN PRAKTIS Manusia mana yang mau merugi dalam hidupnya? Tentu tidak ada. Menurut al-Qur’an, merugi adalah tanda kefasikan. Dan kefasikan mengantarkan pelakunya ke dalam kesesatan dan kekufuran. Di akhirat mereka diancam dengan “kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Neraka Nahanam)”. Maka agar Anda tidak masuk di dalamnya, pelihara tiga hal ini baik-baik: Hubungan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan alam. SURAT AL-BAQARAH  Ayat 26 Edisi Senin 16 Desember 2012

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ

[Sungguh Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih dari itu. Maka adapun orang beriman, mereka yakin bahwa (perumpamaan) itu (adalah) kebenaran (yang berasal) dari Tuhan mereka, tetapi orang kafir mengatakan: "Apa yang Allah kehendaki dengan perumpamaan ini?" Dia (Allah) menyesatkan dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang, dan (juga) memberi petunjuk dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang. Dan tiadalah yang disesatkan Allah kecuali orang yang fasik.]

1). Karena al-Qur’an sangat banyak berbicara tentang hal-hal ghaib—bahkan bisa dikatakan sebagai inti prmbahasannya, sehingga di 2:3 tentang taqwa, yang pertama disyaratkan adalah beriman kepada yang ghaib—yang tak mungkin dijangkau oleh pancaindra, maka untuk menjelaskannya, Kitab Suci pamungkas ini sangat sering membuat perumpamaan. “Dan benar-benar Kami menguraikan kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia enggan (menerima), bahkan mengingkari (nya).” (17:89 dan 18:54, 30:58, 39:27). Perumpamaan kali ini adalah nyamuk, hewan kecil yang dengan mudah ditemui di berbagai tempat di bumi ini. Walaupun kebanyakan orang menganggapnya sebagai hewan pengganggu dan menjengkelkan, namun ternyata bisa menjadi pembeda antara keberimanan dan kekufuran seseorang. Dia (Allah) menyesatkan dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang, dan (juga) memberi petunjuk dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang.

2). Penutup ayat yang mengatakan: Dan tiadalah yang disesatkan Allah kecuali orang yang fasik; menunjukkan bahwa kesesatan dan kekufuran itu didahului oleh kefasikan. Yaitu bersikap acuh terhadap seluruh hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya. Padahal semua hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya minimal menjadi petunjuk atas keber-ADA-an dirinya, yang sekaligus menjadi JEJAK bagi YANG meng-ADA-kannya. Makanya sebelum kata بَعُوضَة (ba’uwdhah, nyamuk) ada kata مَا (mā) yang mengindikasikan bahwa yang harus diperhatikan dari nyamuk tersebut bukan saja keberadaannya yang utuh, tetapi apa saja yang ada padanya, termasuk kejadian-kejadian yang terjadi padanya seperti terbang, dan sebagainya. Itu yang pertama; yang kedua: bukankah semua hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya itulah yang menjadi sumber pengetahuan empirik manusia? Sehingga bersikap acuh terhadapnya, tidak saja mengantarkan yang bersangkutan kepada kesesatan dan kekufuran tapi sekaligus bertentangan dengan semangat kemajuan ilmu pengetahuan.

3). Terkait dengan poin 2, Allah menegaskan: Maka adapun orang beriman, mereka yakin bahwa (perumpamaan) itu (adalah) kebenaran (yang berasal) dari Tuhan mereka. Penggunaan kata الْحَقُّ (al-haqq, kebenaran) menunjukkan dengan sangat jelas bahwa adalah suatu kefasikan manakala pengetahuan empirik manusia—yang lebih popular dengan sebutan sains—berhenti hanya pada sesuatu-nya tok saja: pengetahuan tentang nyamuk berhenti pada nyamuk an sich. Semua hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya, sekecil apapun ia, selayaknya menjadi entry point (pintu masuk) untuk menemukan YANG meng-ADA-kannya. Karena selama kita tidak menemukan-Nya, berarti kita masih berada dalam kegelapan (ingat kembali perumpamaan orang kafir dan munafiq di ayat 17-20). Camkan pernyataan ini bail-baik: Maka itulah Allah, Tuhan kalian (yaitu) الْحَقّ(al-haqq, Sang Kebenaran); maka tiada (lagi) sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan…(10:32). Simpulnya, pengetuahan empirik seyogyanya mengantarkan manusia untuk mengimani-Nya. Kalau tidak, maka sia-sialah ilmunya; tiada yang mereka dapatkan kecuali popularitas semu dan kenikmatan duniawi yang sifatnya sesaat.

4). Perumpamaan ini juga menjelaskan fungsi utama dari al-Qr’an; yaitu menunjukkan titik-titik kelemahan manusia dan rasionalitas kekuasaan Allah sehingga menusia tersadarkan betapa tidak berdayanya mereka dan mutlaknya menggantungkan diri kepada-Nya, terutama dalam hal ketidakmampuannya memberi PETUNJUK kepada diri mereka semdiri. “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan (untuk kalian), maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah sekutu) yang disembah.” (22:73) Bandingkan dengan ayat ini: “Katakanlah: ‘Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain’.” (17:88)

AMALAN PRAKTIS Mata adalah asset manusia yang paling berharga. Tapi tahukah Anda apa fungsi utama yang Allah simpan pada mata itu? Agar dengan mata itu Anda ‘melihat’ DIRI-Nya yang hadir di mana-mana dan pada apa saja, termasuk pada seekor nyamuk. Maka sebelum Anda menampar nyamuk yang tak berdaya itu, coba sisakan waktu beberapa detik untuk memperhatikannya. Lalu tanya diri sendiri: Mampukah saya menciptakan makhluq hidup seperti nyamuk yang seluruh kehidupan dan kebutuhannya mereka urus sendiri?

Tekhnik Menghafal Al-Quran

Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal Al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafizh/hafizhah).

Berikut ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, di antaranya:

1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.

2. Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa. Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.

Pengunjung

Mitra

Kalender

July 2014
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031